Selasa, 30 Mei 2017

Subhanallah..!! ACT Luncurkan FoodTruck Gratis Untuk Kemanusiaan


Menyambut Ramadan, organisasi nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyiapkan Food Truck terbesar dan terlengkap di Indonesia.
Moda ini akan beroperasi selama Ramadan 1438 H atau 30 hari penuh melayani masyarakat yang membutuhkan makanan.
"Selama bulan Ramadan, Food Truck ACT akan hadir di mesjid, lingkungan kumuh miskin, rumah sakit, dan berbagai titik lokasi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan para penerima manfaat," ujar Ahyudin, Presiden Aksi Cepat Tanggap di Mesjid Istiqlal, Jakarta, dalam keterangannya, Kamis (25/5/2017).
Dinamakan Food Truck for Humanity, setiap hari truk ini akan menyediakan sekitar 1.000 porsi makanan gratis. Makanan akan disiapkan oleh koki profesional.
"Dapur di dalam truk ini mampu menyiapkan menu makanan apapun dengan kualitas terbaik. Karena peralatannya modern dan terlengkap di antara food truk yang pernah ada,” ujar, Joni selaku Chef Food Truck for Humanity.
Food Truck for Humanity dari Aksi Cepat Tanggap hanyalah sebuah prototipe, sebuah contoh awal kepada para khalayak khususnya bagi calon wakif  (pihak yang melakukan wakaf).
Menyimak luasnya bentangan Indonesia, banyak daerah membutuhkan mobil serupa Food Truck for Humanity.
Selain dapur, truk ini juga di dukung perlengkapan penunjang lengkap, mulai dari alat radio komunikasi, pendingin udara, sebuah videotron, alarm api, generator set sebagai pembangkit listrik, dan juga sebuah motor trail.‎

"Fungsi motor trail itu nantinya untuk menembus medan-medan terjal. Mengawal, mendistribusikan, dan membawa paket-paket makanan ke desa-desa pelosok yang tak bisa ditembus," tambah Ahyudin.
Setiap harinya armada ini akan singgah di tempat-tempat baru, memberikan makanan gratis untuk mereka yang paling membutuhkan.‎

Sumber : tribunnews.com

Sabtu, 20 Mei 2017

Waduuh..! Upacara Hari Kebangkitan Nasional PNS ini Pada Ngapain ya..?

PNS DKI Bersantai.

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional, Sabtu (20/5/2017), Pemprov DKI Jakarta menggelar upacara di silang Monumen Nasional, Jakarta Pusat.

Upacara ini diikuti pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemprov DKI, perwakilan dari TNI dan Polri, serta sejumlah petugas dari "pasukan pelangi" di bawah Pemprov DKI.

Upacara yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat itu berlangsung hikmat sejak 07.30 WIB.
Namun, tampaknya tak semua PNS mau untuk mengikuti upacara, khususnya pada hari libur seperti saat ini.

Dari pantauan Kompas.com di lokasi, sejumlah PNS yang mengenakan baju batik berwarna biru tampak bersantai. Mereka duduk di bawah pohon untuk menghindari panas matahari.

Bahkan, tak sedikit PNS yang terlihat menikmati makanan dan minuman di kios-kios yang menjajakan makanan di Lenggang Jakarta.

Tampak juga PNS yang masih mondar-mandir di Balai Kota. Padahal, upacara telah dimulai. Ada juga PNS yang sudah masuk ke barisan, akan tetapi tiba-tiba keluar dari barisan tanpa alasan yang jelas.

Kompas.com masih berusaha untuk mengkonfirmasi Djarot mengenai hal tersebut. Selain kegiatan upacara, rencananya Djarot akan menghadiri konser "Indonesia Bangkit" di Waduk Pluit, Jakarta Utara siang ini.

Acara ini dimeriahkan oleh sejumlah musisi Ibu Kota. Djarot juga akan menghadiri acara "Malam 1000 Cahaya" di Makam Mbah Priok, Jakarta Utara.

Sumber : megapolitan.kompas.com

Rabu, 10 Mei 2017

WOW..!! Aplikasi Gratisan Ini Jadi Sumber Dollar Bagi Pemakainya

Wowapp Open Page


Apa itu WowApp?
WowApp adalah Sebuah aplikasi media sosial pertama yang membayar penggunanya. Kehadirannya bakal menyaingi BBM, WhatsApp, Line dll. Aplikasi WowApp ini bisa digunakan untuk chatting, call dan video call. Maksimalkan hp android anda untuk menambah income. Jangan lewatkan, silakan download dan instal aplikasi ini di hp anda dan begitu juga di PC/Laptop. WowApp mendukung semua perangkat dan sistem operasi. Compatible dengan Windows, iOs, Mac, android.
NOTE :  Pendaftaran Gratis Dan Tanpa Dipungut Biaya Sepersenpun.


DAFTAR DISINI


Misi WowApp
Untuk menjadi platform di internet di mana semua orang bisa mendapatkan  penghasilan dari kegiatan saat ini mereka lakukan secara gratis. 

Berdasarkan Wowism - Ekonomi Baru Berbagi
Wowism adalah sistem ekonomi baru di mana sebagian besar manfaat ekonomi bersama dengan masyarakat. Masyarakat di saham gilirannya untuk berbuat baik di dunia.  

Melakukan Baik melalui Kekuatan Sharing
WowApp membantu masyarakat membuat perbedaan melalui kekuatan berbagi. Kami berbagi lebih dari 70% dari kita sendiri pendapatan / margin dari pasar memanggil internasional dibayar - $ 5 Miliar per pasar-tahun dan dari iklan digital dan mobile kami - $ 135 Miliar per pasar tahun. Selanjutnya, pilihan ada di tangan Anda. Anda dapat memilih untuk berbuat baik bagi orang lain dengan menyumbang ke salah satu dari hampir 2.000 amal di lebih dari 110 negara atau untuk berbuat baik untuk diri sendiri dengan pembayaran.
  
Bagaimana Cara Daftar WowApp? 
Silakan gunakan aplikasi WowApp di laptop atau di smartphone Anda dan dapatkan penghasilan dari sana. Dan yang jelas semuanya bisa Anda nikmati dengan GRATIS.   


Private Page

DAFTAR DISINI

Bagaimana Cara Kerja WowApp?
Untuk mendapatkan penghasilan dari aplikasi WowApp ini Anda cukup Undang Teman Anda sebanyak-banyaknya untuk mendaftar maka Akun WowApp Anda tersebut akan terus mengalir Earn/Uang setiap bulannya. Penghasilan aplikasi tersebut akan diberikan kepada kita Sebesar 70% dari refferal Kita.  
Comisi sampai 8 Level reff. JOSSS !!!!
Level 1 = 25% 
Level 2 = 12,5% 
Level 3 = 6,25% 
Level 4 = 3.12% 
Level 5 = 1,56% 
Level 6 = 0,78% 
Level 7 = 0,39% 
Level 8 = 0,19%




DAFTAR DISINI


Sumber : ayobisnisdarirumah.blogspot.com
               wowapp.com

Jumat, 05 Mei 2017

Live Streaming i-News

Inilah Live Streaming  i-News



Said Aqil Larang Aksi 55, Din Syamsudin: "Tidak Ada Yang Boleh Halangi Kecuali Yang Anti Demokrasi"

Din Syamsudin dan Said Aqil Siraj

Menanggapi Aksi Bela Islam lanjutan (Aksi 55) pada 5 Mei 2017. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Said Aqil Siroj, demo tidak ada gunanya.
“Kalau ada inspirasi, rekomendasi, kritik monggo disampaikan tidak usah dengan demo. Demo itu menghabiskan energi, waktu, duit kecuali memang ada yang mengongkosin dan mengerahkan,” kata Kiai Said Aqil, Rabu (3/5), seperti dilansir Republika.
Mengenai vonis Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dinilai terlalu ringan. Menurut Kiai Said, percayakan saja ke pengadilan. “Pengadilan pengadilan kita, jaksa jaksa kita, hakim hakim kita. Mau percaya sama hakim Singapura? Mau percaya pada jaksa Filipina?,” ujarnya.
Rupanya pernyataan Said ditanggapi oleh Mantan Ketum Muhammadiyah Din Syamsuddin yang mengatakan bahwa Aksi Simpatik 55 adalah ekspresi demokrasi yang dijamin konstitusi. Menurutnya, aksi tersebut digelar karena keresahan penegakan hukum yang tidak berkeadilan. 
Karenanya, siapa pun yang menghalangi aksi tersebut merupakan tindak kejahatan yang sesungguhnya. “Tidak ada yang boleh menghalanginya kecuali yang anti-demokrasi dan anti-konstitusi,” kata Din, Kamis (4/5), dilansir JPNN.
Aksi Simpatik 55, lanjut dia, adalah sejalan dengann kerukunan sejati, karena yang diprotes adalah ujaran kebencian yang mengganggu kerukunan. Sedangkan aspirasinya adalah agar ada penegakan hukum dan keadilan.
“Jika kasus penista agama bebas maka saling menghina antara kelompok-kelompok masyarakat seperti yang sudah menggejala terakhir ini akan merajalela dan merusak kebinekaan bangsa,” kata dia.
Oleh karena itu, terang Din, terhadap pelanggar norma dan etika kerukunan tersebut harus diamputasi lewat penegakan hukum yang berkeadilan dan memperhatikan rasa keadilan masyarakat.

Sumber : pekanews.com

Selasa, 02 Mei 2017

Inilah Biografi Sang Pahlawan Pendidikan - Ki Hajar Dewantara

Inilah Biografi Sang Pahlawan Pendidikan kita : 




  • Nama Lengkap : Ki Hajar Dewantara
  • Alias : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
  • Profesi : Tokoh Pendidikan
  • Agama : Islam
  • Tempat Lahir : Yogyakarta
  • Tanggal Lahir : Kamis, 2 Mei 1889
  • Zodiac : Taurus
  • Warga Negara : Indonesia
  • Istri : Nyi Sutartinah

BIOGRAFI

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara dibesarkan di lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.

Hal ini dimaksudkan supaya Ki Hadjar Dewantara dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi lantaran sakit, sekolahnya tersebut tidak bisa dia selesaikan.

Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain bekerja sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo yang nantinya akan dikenal sebagai Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913 karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalism dan kesatuan rakyat untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Semangatnya tidak berhenti sampai sini. Pada bulan November 1913, Ki Hadjar Dewantara membentuk Komite Bumipoetra yang bertujuan untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda. Salah satunya adalah dengan menerbitkan tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga) di mana kedua tulisan tersebut menjadi tulisan terkenal hingga saat ini. Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman pengasingan terhadap Ki Hadjar Dewantara. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisan yang bernada membela Ki Hadjar Dewantara. Mengetahui hal ini, Belanda pun memutuskan untuk menjatuhi hukuman pengasingan bagi keduanya. Douwes Dekker dibuang di Kupang sedangkan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa mempelajari banyak hal dari pada di daerah terpencil. Akhirnya mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Ki Hadjar Dewantara berhasil memperoleh Europeesche Akte. Pada tahun 1918, Ki Hadjar Dewantara kembali ke tanah air.


Di tanah air Ki Hadjar Dewantara semakin mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya, dia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932.

Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut. Selama mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Kegiatan menulisnya ini terus berlangsung hingga zaman Pendudukan Jepang.

Saat Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar ditunjuk untuk menjadi salah seorang pimpinan bersama Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil direbut dari tangan penjajah dan stabilitas pemerintahan sudah terbentuk.

Ki Hadjar Dewantara dipercaya oleh presiden Soekarno untuk menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Melalui jabatannya ini, Ki Hadjar Dewantara semakin leluasa untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1957, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan gelar Doktor Honori Klausa dari Universitas Gajah Mada. 

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, tepatnya pada tanggal 28 April 1959 Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kini, nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Ajarannya yakni tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan) akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia. Untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara.

Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Taman Siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.
Riset dan Analisa: Fathimatuz Zahroh

PENDIDIKAN
  • ELS (Europeesche Lagere School) 
  • STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera)
KARIR
  • Pendiri perguruan Taman Siswa
PENGHARGAAN
  • Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada
  • Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959

Sumber : profil.merdeka.com/indonesia/k/ki-hadjar-dewantoro/

2,5 Persen Saja

“Intinya setiap harta yang kita miliki, wajib kita zakati. Sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW”. Terang Pak Aji di ...